Di usia yang baru menginjak 13 tahun, Raisyauqi Nakhla Al Ahza Niam, santri kelas VII MTs Pondok Pesantren Nurul Ulum Bantul, menorehkan prestasi membanggakan dengan menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an bil ghoib. Perjalanan panjang penuh kesabaran dan istiqamah mengantarkannya pada pencapaian luar biasa ini.
Tidak hanya unggul dalam bidang tahfiz, Raisyauqi juga menunjukkan kecemerlangan akademik. Ia tercatat sebagai Juara Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Mata Pelajaran Matematika tingkat Kabupaten Bantul dan dipercaya mewakili kabupaten tersebut di tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Keberhasilan ini tidak lepas dari bimbingan intensif Ustadzah Farida Noor Isnaini, M.Pd., selaku pembimbing tahfidz pesantren, yang senantiasa mendampingi proses setoran hingga murojaah hafalan santrinya.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum Bantul, Drs. KH. Noor Fuadi, menyampaikan apresiasi serta doa mendalam bagi sang santri. Beliau mengingatkan bahwa pencapaian khatam bukanlah garis akhir.
“Alhamdulillāh. Khatam niku dudu pungkasan, nanging wiwitan. Mugi tansah istiqamah njagi hafalan, ngamalaken isi Al-Qur’an, dados putra ingkang sholeh, migunani tumrap umat, agama, bangsa, lan negara. Mugi tansah pinaringan barokah dunya wal akhirah,” dawuh KH. Noor Fuadi.
Rasa syukur yang mendalam turut diungkapkan oleh kedua orang tua Raisyauqi, Bapak Fauzun Niam dan Ibu Layli Fajar Sofiyah, yang berasal dari Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat ini. Melihat Raisyauqi mampu menyelesaikan hafalan 30 juz di usia yang masih sangat muda adalah kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Semoga Allah menjaga hafalannya, menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hidupnya, serta membimbingnya menjadi anak yang saleh, rendah hati, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara,” ungkap Bapak Fauzun.
Kini, dengan kombinasi prestasi akademik dan hafalan Al-Qur’an di tangannya, Raisyauqi menyimpan impian besar untuk melanjutkan pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Ia memantapkan langkah untuk mengabdi sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia, membawa identitas mulia sebagai seorang santri penghafal Al-Qur’an.

