Pagi itu, suasana di MTs Nurul Ulum Bantul terasa sedikit berbeda. Ada wajah-wajah yang tampak penuh semangat, tetapi ada pula yang terlihat gugup.
Di tengah suasana tersebut, tiga nama berdiri membawa gagasan dan harapan masing-masing: Aufaa Ihsan, Elok Ageng Kamaratih, dan ‘Aliya Filasufah.
Mereka bukan sedang mengikuti ujian ataupun berlomba menjadi yang paling unggul. Ketiganya sedang menjalani sebuah proses pembelajaran yang lebih besar, yakni belajar bagaimana rasanya mendapatkan kepercayaan untuk memimpin.
Pada Rabu, 2 September 2026, MTs Nurul Ulum Bantul menyelenggarakan Pemilihan Ketua Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM). Tiga calon tampil menyampaikan gagasan sekaligus menawarkan semangat kepemimpinan untuk memperoleh amanah dari teman-temannya.
Namun, bagi pihak madrasah, pemilihan Ketua OSIM atau Pemilos bukan hanya tentang menentukan siapa yang memperoleh suara terbanyak. Di balik proses pemungutan suara, terdapat pembelajaran mengenai tanggung jawab, keberanian, demokrasi, serta sikap menghargai perbedaan.
Para siswa belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Mereka juga belajar bahwa perbedaan pilihan tidak seharusnya menjadi alasan untuk bermusuhan.
Lebih dari itu, proses tersebut mengajarkan bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar berdiri di posisi paling depan, melainkan kesediaan untuk memikul amanah dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Tiga Calon, Tiga Harapan
Calon Ketua OSIM nomor urut 1, Aufaa Ihsan, membawa semangat menjadikan OSIM sebagai ruang bagi siswa untuk berkembang sekaligus memberikan kontribusi bagi madrasah.
“Saya ingin OSIM bukan hanya menjadi sebuah organisasi, tetapi menjadi tempat bagi teman-teman untuk belajar, berani menyampaikan pendapat, dan bersama-sama membuat perubahan yang baik di madrasah,” kata Aufaa.
Sementara itu, calon nomor urut 2, Elok Ageng Kamaratih, memandang kepemimpinan sebagai sebuah amanah yang tidak dapat dijalankan seorang diri.
“Bagi saya, menjadi pemimpin bukan berarti berjalan sendiri. Seorang pemimpin harus mau mendengarkan, bekerja sama, dan mengajak teman-temannya untuk tumbuh bersama,” ujar Elok.
Adapun calon nomor urut 3, ‘Aliya Filasufah, membawa pesan bahwa kepemimpinan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya ingin menunjukkan bahwa menjadi pemimpin bisa dimulai dari hal-hal sederhana: disiplin, bertanggung jawab, mau membantu, dan menjadi contoh yang baik bagi teman-teman,” tutur ‘Aliya.
Ketiga calon memiliki gagasan dan pendekatan yang berbeda. Namun, mereka dipertemukan oleh satu hal yang sama, yakni keberanian untuk maju, menyampaikan gagasan, serta kesiapan belajar menerima amanah.
Ketika Madrasah Mengajarkan Arti Kepemimpinan
Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan MTs Nurul Ulum Bantul, Annisa Qibti Nur’aini, S.Pd., mengatakan bahwa kegiatan Pemilos menjadi bagian dari proses pendidikan karakter bagi para siswa.
Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang agar siswa memahami bahwa kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan atau posisi.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa kepemimpinan itu bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang siap bertanggung jawab, mau mendengarkan, mampu bekerja sama, dan memberikan keteladanan,” kata Annisa.
Ia menjelaskan, pengalaman mengikuti proses pemilihan dapat memberikan pembelajaran yang lebih membekas karena siswa mengalami langsung berbagai tahapan di dalamnya.
Mulai dari keberanian mencalonkan diri, menyampaikan gagasan, menentukan pilihan, menghargai pendapat orang lain hingga menerima hasil pemilihan.
“Hari ini mereka mungkin hanya memilih ketua OSIM. Tetapi dari proses sederhana ini, kami berharap tumbuh keberanian untuk menjadi pemimpin di masa depan. Mereka belajar menyampaikan gagasan, menghargai perbedaan pilihan, menerima hasil, dan tetap bersahabat setelah pemilihan selesai,” ujarnya.
Dari proses sederhana itulah nilai pendidikan demokrasi dan kepemimpinan mulai diperkenalkan kepada para siswa.
Seseorang yang hari ini belajar menggunakan hak pilihnya, pada masa mendatang mungkin akan menjadi orang yang dipercaya untuk memimpin.
Demikian pula seorang siswa yang hari ini belajar menyampaikan gagasan di hadapan teman-temannya, kelak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu berdiri di tengah masyarakat dengan membawa ilmu, keberanian, serta tanggung jawab yang lebih besar.
Menyiapkan Pemimpin Masa Depan
Pemilos MTs Nurul Ulum Bantul menjadi salah satu bagian dari ikhtiar madrasah dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga mempunyai karakter, keberanian, keterampilan sosial, serta jiwa kepemimpinan.
Sebab, pendidikan tidak berhenti pada seberapa banyak ilmu yang dapat dipelajari atau dihafalkan oleh siswa.
Pendidikan juga berkaitan dengan bagaimana ilmu tersebut membentuk sikap, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta keberanian untuk memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar.
Semangat tersebut sejalan dengan cita-cita yang terus dibangun MTs Nurul Ulum Bantul, yakni:
“Melahirkan penghafal Al-Qur’an, pemimpin dan profesional masa depan.”
Perjalanan menuju cita-cita itu tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia dapat dimulai dari sebuah pilihan, sebuah amanah, dan keberanian seorang siswa untuk mengatakan:
“Saya siap memimpin.”

